KOMPAS.TV - Baru-baru ini zat pewarna karmin sedang ramai dibahas dan menjadi sorotan warganet. <br /> <br />Dikabarkan karmin berasal dari bangkai hewan, apakah benar demikian? <br /> <br />Melansir dari halalmui.org, pewarna tersebut dari cochineal, hewan yang memiliki banyak kesamaan dengan belalang. <br /> <br />Sebagai informasi serangga cochineal darahnya tidak mengalir hewan tersebut juga sering digunakan untuk pewarna makanan dan minuman. <br /> <br />Nah, dalam industri makanan dan minuman pewarna dari serangga itu disebut carmyne (karmin). Berasal dari sejenis kutu daun yang dihancurkan. <br /> <br />Hasil olahan yang menggunakan pewanrna karmin dan beredar di pasaran antara lain: <br /> <br />Untuk makanan mulai dari es krim, susu, yoghurt, makanan ringan, selain itu digunakan pula untuk kosmetik mulai dari sampi, losion, hingga eyeshadow. <br /> <br />Serangga ini banyak ditemukan di Amerika Tengah dan Selatan. Sementara Peru merupakan penghasil karmin terbesar di dunia, mencapai 70 ton per tahun. <br /> <br />Baca Juga Seorang Mahasiswi di Surabaya Ciptakan Inovasi Pewarna Alami dari Limbah Ampas Kopi! di https://www.kompas.tv/video/309173/seorang-mahasiswi-di-surabaya-ciptakan-inovasi-pewarna-alami-dari-limbah-ampas-kopi <br /> <br />Editor Video: Dawud Majid <br /> <br />Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/447527/geger-soal-bahan-pewarna-karmin-dari-serangga-begini-penampakannya-sinau
